Keduanya datang dengan reputasi besar di sepak bola Belanda serta pengalaman panjang dalam pengembangan pemain muda.
Gerald Vanenburg dikenal sebagai sosok yang disiplin dan detail dalam membangun karakter pemain muda.
BACA JUGA:Pendaftaran Pilwu Serentak Indramayu Resmi Ditutup, Ini Nama Calon Kuwu Desa Lamarantarung
Sementara Frank van Kempen disebut punya perhatian besar terhadap aspek taktik dan pembentukan identitas permainan.
Namun, perjalanan mereka bersama Indonesia tidak berlangsung lama. Setelah menjalani beberapa bulan kerja sama, arah visi dan strategi pembinaan disebut tidak lagi sejalan dengan rencana jangka panjang PSSI.
PSSI menilai perubahan komposisi kepelatihan penting dilakukan demi menyesuaikan kebutuhan pembinaan yang lebih terarah.
Evaluasi menyeluruh ini menjadi sinyal serius federasi ingin memastikan setiap jenjang tim nasional memiliki kesinambungan program.
Langkah ini juga memperlihatkan bagaimana PSSI tengah bergerak cepat menyusun ulang strategi besar sepak bola nasional.
BACA JUGA:Desain Surat Suara dan Penataan Dapil, Jadi Bahan Diskusi KPU Majalengka
Setelah Patrick Kluivert dipecat dari jabatan pelatih kepala, kepergian dua pelatih kelompok usia lainnya menjadi kelanjutan dari restrukturisasi besar di tubuh tim kepelatihan.
Meski tidak dijelaskan secara rinci alasan pemutusan kerja sama, keputusan ini disebut hasil kesepakatan bersama yang dilakukan secara profesional.
PSSI menegaskan tidak ada konflik personal dan semua pihak berpisah dalam suasana baik. Bagi sebagian penggemar sepak bola Tanah Air, kabar ini terasa mengejutkan.
Pasalnya, Vanenburg dan Van Kempen sempat dinilai membawa metode latihan modern dan pendekatan berbeda yang dianggap cocok untuk pemain muda Indonesia.
Namun, PSSI tampaknya ingin menyesuaikan sistem pembinaan agar lebih sinkron dengan kebutuhan jangka panjang.