Menurutnya, pekerja sosial bukan sekadar pendamping, melainkan penjaga nurani bangsa yang mampu membaca persoalan kemanusiaan di balik data statistik.
Implementasi kebijakan sosial tersebut, kata dia, menunjukkan hasil yang signifikan dalam 10 bulan terakhir.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kuningan tercatat 10,41 persen pada Kuartal II 2025, tertinggi di Pulau Jawa.
Angka kemiskinan turun 1,14 poin atau setara 12.160 warga keluar dari kemiskinan, sementara tingkat pengangguran menurun menjadi 7,59 persen dengan penyerapan 10.450 tenaga kerja baru.
Di sektor pangan, Kabupaten Kuningan mencatat surplus beras mencapai 120.244 ton sepanjang 2025, serta penurunan jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) hingga 50 persen.
Secara akademis, Bupati Dian menyebut kebijakan pembangunan di Kuningan sejalan dengan Social Development Theory yang dikemukakan James Midgley, yakni integrasi kebijakan ekonomi dengan intervensi sosial.
"Kesejahteraan sosial adalah hak warga negara, bukan hadiah dari negara,” tandasnya.
Menutup orasi ilmiahnya, Bupati Dian menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pekerja sosial.
"Pekerja sosial adalah pelita di lorong tergelap kemanusiaan. Meski melelahkan, setiap manusia yang kalian kuatkan akan menjadi doa yang kelak menjaga kalian,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Social Worker Indonesia dalam Pengembangan Masyarakat (Swipam), Prof Dr Jusman Iskandar MS mengatakan, penghargaan diberikan kepada kepala daerah sebagai bentuk apresiasi.
Dijelaskan Prof Dr Jusman Iskandar, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata kepala daerah dalam pengembangan kebijakan kesejahteraan sosial yang inklusif dan berkelanjutan, layak untuk mendapat Anugerah Social Worker Indonesia Teladan Berprestasi.
Anugerah ini diberikan Swipam bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Pendidikan Sosial Indonesia (Yapsi).
Prof Dr Jusman Iskandar MS menegaskan, bahwa penetapan penerima anugerah dilakukan melalui proses penelitian dan pengkajian mendalam.
"Penetapan ini merupakan hasil penelitian dan kajian hampir satu tahun oleh Yapsi dan DPP Swipam terhadap kiprah para pekerja sosial di Indonesia,” ujar Prof Dr Jusman.