Sistem ini menggunakan pompa dosing otomatis yang terintegrasi dengan IoT untuk memantau dan mengendalikan nutrisi melalui aplikasi smartphone, sehingga lebih efisien dari segi waktu dan biaya.
Dengan penerapan teknologi ini, Rohmat menyebut, peran petani menjadi lebih ringan.
Petani hanya perlu melakukan perawatan seperti membuang tunas dan mengelola air yang tidak diperlukan. Hasilnya pun lebih presisi dan stabil.
Meski telah tiga tahun membudidayakan melon, penggunaan teknologi ini baru berjalan dua tahun terakhir dan terbukti memberikan hasil yang lebih maksimal, panen lebih cepat, serta ukuran buah yang lebih seragam.
“Biaya produksi juga bisa ditekan hingga 70 persen. Ke depan, teknologi ini akan terus dikembangkan dan dibagikan kepada para petani melon agar produksi meningkat dan mampu memenuhi permintaan pasar. Saat ini, kami baru bisa memenuhi sekitar 20 persen dari permintaan konsumen,” tuturnya. (oni)