Bupati pun tak melewatkan pesan klasik yang selalu relevan: membangun daerah tak cukup dengan kerja keras, tapi juga dengan doa.
BACA JUGA:Arus Mudik Naik, Harga Ikut Ngegas: Bupati Kuningan Turun Tangan
BACA JUGA:Bulan Ramadhan Jadi Lebih Fun Bersama Mio Ride The Hype
Namun, ada satu bagian yang paling “menggelitik” sekaligus menghangatkan: sambutan untuk para perantau.
“Sejauh apa pun pergi, hati selalu tahu arah pulang. Dan bagi kita, pulang itu adalah Kuningan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi di malam takbiran, ia terasa lebih dalam. Sebab di antara kerumunan itu, mungkin ada yang baru saja pulang setelah sekian lama. Membawa rindu, lelah, dan cerita yang tak sempat dibagi.
Tak heran, wajah-wajah yang hadir malam itu tak sekadar ceria. Ada yang berkaca-kaca. Ada yang diam, tapi penuh.
BACA JUGA:Arus Mudik Kuningan 2026 Melonjak, 27 Ribu Kendaraan Masuk dalam Sehari
BACA JUGA:“Kado Ramadan” dari Kampus: PBI Uniku Sabet Akreditasi Tertinggi
Seorang warga, Adi dari Cijoho, mengaku momen ini bukan hal biasa.
“Bisa takbiran bareng, apalagi dengan pemimpin daerah, rasanya beda. Lebih hangat. Lebih hidup,” katanya.
Dan mungkin di situlah letak kekuatan malam takbiran Kuningan tahun ini: bukan pada seberapa meriah acaranya, tapi seberapa dalam ia dirasakan.
Takbir terus berkumandang. Bedug terus ditabuh. Tapi yang paling lama tinggal justru rasa—bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia, masih ada ruang untuk pulang, untuk memaafkan, dan untuk memulai lagi.
BACA JUGA:Rencana Jahat Kandas! Dua Pelaku Curanmor Lintas Daerah Dibekuk Polisi
BACA JUGA:Turun Gunung Demi Rakyat, Ika Siti Rahmatika Urus Pangan hingga Jalan Desa
Malam itu, Kuningan tidak hanya merayakan Idulfitri. Ia merayakan kebersamaan yang nyaris terlupakan. (*)