Kisah Mistis di Balik Keangkeran Tugu Perbatasan Cirebon-Kuningan
Cerita lain dituturkan Dicky yang juga merupakan pengendara ojek pangkalan Wanayasa, dirinya sempat membawa penumpang yang minta diantar ke daerah Sedong, tetapi penumpang tersebut minta turun di sebuah kebun yang jauh dari pemukiman warga.
Selesai transaksi ongkos ojek, Dicky tidak bisa menemukan jalan pulang hingga dirinya harus putar-putar tidak tentu arah.
“Saat itu sekitar jam tujuh pagi, dan saya bawa penumpang ke arah Sedong, setelah penumpang turun, saya seperti linglung tidak tahu jalan,” kata Dicky.
Hingga akhirnya ada suara adzan, dan dirinya memutuskan mengikuti suara itu hingga bisa menemukan jalan kembali. “Dari pagi saya muter-muter ngak tentu arah hingga dzuhur,” ujarnya sambil menghisap sebatang rokok sambil mengingat kejadian yang pernah dialaminya itu.
Sempat suatu ketika temannya yang merupakan ojek dari desa tetangga membawa penumpang dan melintasi tugu perbatasan, tetapi ketika melintas di kawasan itu, penumpang tersebut menghilang dari jok belakang motor.
“Menurut pengakuan teman saya, penumpangnya seorang perempuan dan minta diantar ke arah Kuningan, tetapi ketika pas melintas di tugu perbatasan, ada keanehan di bobot motor, ketika dia menoleh ke belakang, ternyata penumpang sudah tidak ada,” ujar Dicky sambil memperlihatkan bulu halus di tangannya yang sudah berdiri.
Dari berbagai cerita yang menghiasi keberadaan tugu perbatasan Cirebon-Kuningan tersebut, menurut pengamatan penulis memang menantang untuk memacu kendaraan hingga speed limit. Tak heran jika kecelakaan di jalur tersebut berakhir dengan korban jiwa. (brd)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
