Cegah Stunting, Pemkab Kuningan Gencarkan Gerimis-Gematel
Peluncurkan Gerakan Minum Susu (Gerimis) dan Gerakan Makan Telur (Gematel) di Desa Cibuntu, Kecamatan Cigandamekar, Kabupaten Kuningan.-Agus Phanter-Radar Kuningan
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan Dr. A. Taufik Rohman, M.Si., M.Pd., mengatakan penanggulangan stunting membutuhkan intervensi sejak dini, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Penanganan, kata dia, tidak hanya ditujukan kepada anak yang sudah mengalami stunting. Pencegahan perlu dilakukan sejak masa kehamilan, termasuk pemenuhan gizi ibu dan anak, pola asuh, hingga ketahanan pangan keluarga.
16 Pelaku Usaha Peternakan Ikut Mendukung
Pelaksanaan Gerimis dan Gematel juga melibatkan dunia usaha. Sebanyak 16 pelaku usaha peternakan memberikan dukungan dalam kegiatan penanggulangan stunting tersebut.
Pemerintah daerah mengapresiasi keterlibatan sektor usaha sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Kuningan.
Pelaku usaha yang tercatat memberikan dukungan antara lain PT New Hope Farm Indonesia, Atmaza Farm, CV Altel, PT Charoen Pokphand Jaya Farm, CV Wangun Unggas Perkasa, Koperasi Agri Berkah Kemuning, PT Sidosari Farm, PT Super Unggas Jaya, Koperasi Produsen Karya Nugraha Jaya Kuningan, Koperasi Konsumen Susu Laras Ati, Ersa Farm, KPSP Saluyu, PT AS Putra Group, CV Ryan Jaya Farm, PT Sari Bumi Farm, dan PT Sumber Inti Pangan.
Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut.
Pemkab Kuningan berharap dukungan melalui tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR tidak hanya berupa bantuan sesaat.
Dukungan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang menjangkau lebih banyak keluarga, ibu hamil, dan anak-anak.
Keberhasilan Tidak Hanya Diukur dari Jumlah Kegiatan
Gerimis dan Gematel juga diarahkan untuk membangun kebiasaan mengonsumsi protein hewani sejak usia dini sekaligus mengoptimalkan potensi pangan lokal Kabupaten Kuningan.
Pemerintah daerah menilai keberhasilan program nantinya tidak semata-mata dilihat dari jumlah kegiatan yang dilaksanakan.
Perubahan status gizi, pola konsumsi, kesehatan ibu dan anak, serta kualitas hidup masyarakat menjadi bagian yang diharapkan dapat terlihat dari pelaksanaan program tersebut.
Wabup Tuti menegaskan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menangani stunting. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha diperlukan agar program pencegahan dan penanggulangan stunting memberikan dampak nyata bagi generasi mendatang.
“Dari keluarga yang sehat, lahir generasi yang kuat. Dari generasi yang kuat, Kuningan melesat,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

