Salat Istisqa: Doa dan Langkah-langkah dalam Mengatasi Kemarau Panjang

Salat Istisqa: Doa dan Langkah-langkah dalam Mengatasi Kemarau Panjang

Salat Istisqa sebagai ikhtiar untuk mengakhiri kemarau panjang dan meminta kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan. -ist-

RADARKUNINGAN.COM - Ketika musim kemarau panjang, banyak sumber air menjadi kering, dan masyarakat menghadapi kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Sebagai seorang Muslim, sangat penting menjaga kesabaran dalam menghadapinya dan berdoa agar kemarau segera berakhir. Selain itu, kita juga bisa melakukan ikhtiar dengan melaksanakan Salat Istisqa.

Salat Istisqa, sesuai namanya, adalah salat yang dilakukan untuk meminta turunnya curahan air hidup (thalab al-saqaya) dari Allah SWT. Salat Istisqa telah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, disebutkan: Nabi Muhammad SAW keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, lalu beliau salat dua rakaat bersama kita tanpa azan dan iqamat, kemudian beliau berdiri untuk khotbah dan memanjatkan doa kepada Allah SWT dan seketika itu beliau mengalihkan wajahnya (dari semula menghadap ke arah hadirin) menghadap ke kiblat serta mengangkat kedua tangannya, serta membalikkan selendang sorbannya, dari pundak kanan ke pundak kiri, begitupun ujung sorbannya. (HR. Imam Ahmad).

BACA JUGA:Kebijakan Penutupan Fitur Lokapasar TikTok Shop sebagai Langkah Perlindungan dan Persaingan Sehat

Salat Istisqa dilakukan di siang hari, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh istri Rasulullah, Aisyah. Beliau mengatakan: bahwa Rasulullah SAW keluar untuk melaksanakan Salat Istisqa ketika matahari mulai naik (HR. Abu Dawud & Al-Hakim). Para ulama berpendapat bahwa Salat Istisqa dapat dilakukan hingga sore hari, kecuali pada waktu-waktu yang diharamkan untuk melaksanakan salat, yaitu saat matahari berada di atas kepala dan saat matahari terbenam. Salat Istisqa dapat dilakukan lebih dari sekali hingga hujan turun.

 

Berikut ini tata cara Salat Istisqa:

1. Pemerintah setempat mengimbau kepada masyarakat untuk berpuasa selama 3 (tiga) hari.

2. Pada hari ke empat imam dan jamaah berkumpul di tanah lapang untuk melaksanakan salat secara berjamaah.

3. Tanpa melaksanakan azan dan iqamat, imam dan jamaah berniat untuk melaksanakan Salat Istisqa. Ini niat Salat Istisqa:

 أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

BACA JUGA:Organisasi Sundawani Wirabuana, Gerakan Kebudayaan untuk Lestarikan Warisan Leluhur

4. Setelah takbiratul ihram, imam dan jamaah melakukan takbir sebanyak 7 kali pada rakaat pertama, dan 5 kali takbir pada rakaat kedua.

5. Di setiap rakaat, imam membaca Surat Al-Fatihah dan satu surat pendek yang dapat didengarkan oleh jamaah. Selanjutnya dilanjutkan dengan rukuk, dua sujud, dan duduk di antara dua sujud.

6. Setelah sujud pada rakaat kedua, imam dan jamaah melakukan duduk tahiyyat akhir dan membaca bacaan tahiyyat, tasyahhud, dan salawat seperti yang dibaca dalam salat wajib.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: