Berbagai kegiatan dan pelayanan publik pun terus digelar di Puspa Siliwangi guna menarik minat masyarakat untuk berkunjung dan menikmati aneka kuliner yang tersedia.
Untuk mendukung peningkatan kenyamanan dan estetika Pusat Parkir dan Jajanan, bupati berencana melakukan sejumlah terobosan.
Salah satunya adalah pengembangan konsep dua lantai, dengan area parkir di lantai atas dan pedagang di lantai bawah, sebagaimana yang direncanakan di Puspa Taman Kota.
Selain bantuan stimulan, Pemerintah Kabupaten Kuningan juga memberikan perhatian pada perawatan fasilitas Puspa, termasuk perbaikan bangunan dari kebocoran dan kerusakan.
Fokus perhatian juga diarahkan kepada Puspa Langlangbuana yang dinilai memerlukan penanganan ekstra akibat menurunnya omzet pedagang di lokasi tersebut.
"Paling agak repot itu Langlangbuana, harus menjadi perhatian. Terlihat belum beranjak meningkat (omzet pedagang) dibanding Puspa yang ada," ungkap Bupati Dian.
Agar kegiatan di Puspa Langlangbuana menggeliat, pihaknya bakal membuat bebeberapa perubahan.
"Saya ingin kios-kios di sana dibuat menarik, beri warna-warni, bisa jadi spot fotografi,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari strategi revitalisasi kawasan, bupati juga mengusulkan agar sejumlah kegiatan pemerintahan di tingkat eksekutif maupun legislatif dapat digelar secara terbuka di area Puspa.
Saat ini, Puspa Siliwangi telah dilengkapi dengan sejumlah pelayanan publik, seperti layanan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Mini Theater Disdikbud, serta yang terbaru, hadirnya kantor pelayanan Bank Kuningan, dan wifi gratis disediakan Diskominfo.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagperin) Trisman Supriatna SPd MPd menjelaskan bahwa bantuan stimulan akan dicairkan setiap tiga bulan sekali melalui rekening Bank Kuningan milik masing-masing pedagang.
"Ada 367 PKL yang kita buatkan SK bantuan stimulan, diberikan setiap triwulan. Ini bagian dari program kerja 100 hari bupati. Jangan sampai para pedagang keluar dari lokasi yang disediakan pemkab, karena pemerintah terus memperhatikan pedagang supaya bertahan," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Puspa Siliwangi Heru, mengungkapkan, bahwa dorongan dari pemerintah mulai memberikan dampak terhadap peningkatan omzet.
Meski belum sepenuhnya kembali seperti semula, dirinya menyebutkan bahwa penurunan omzet pasca relokasi mencapai 60 persen.
"Perlu waktu untuk meramaikan tempat ini. Tepat satu tahun, saya ingat tahun lalu pada 19 April 2024 mulai berjualan di sini. Ya, satu tahun atau dua tahun perlu bersabar," ungkapnya.
Selama satu tahun terakhir, tantangan terberat para pedagang terjadi pada bulan-bulan awal penempatan. Tidak sedikit pedagang yang terpaksa beralih profesi atau memilih pindah ke tempat lain.