Komplotan Pembalakan Liar di Hutan Gunung Ciremai Incar Pohon Bernilai Jual Tinggi

Kamis 08-01-2026,14:35 WIB
Reporter : Asep Kurnia
Editor : Asep Kurnia

Sebelum disergap, terjadi aksi kejar-kejaran aparat dengan pelaku pembalakan liar di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.

Kasus ini bukan pengungkapan dadakan. Aparat sudah mencium aktivitas mencurigakan sejak Rabu siang (7/1/2026).

BACA JUGA:Pasca Mutasi Pejabat Pemkab Kuningan: Harga Daging Ayam dan Cabai Turun Mendadak di Pasar Tradisional

Setelah menempuh jalur hutan sekitar dua kilometer, truk kembali terdeteksi saat tengah malam dalam kondisi terparkir. 

Namun saat aparat mendekat, pelaku lebih dulu menyadari kehadiran petugas dan langsung kabur memanfaatkan gelapnya malam.

Di lokasi kejadian, aparat mengamankan satu unit truk bernomor polisi AA 824 IF sekitar 20 batang kayu Sono Keling berukuran ±1 meter

Kayu Sono Keling dikenal memiliki nilai jual tinggi dan sering menjadi incaran jaringan ilegal karena mudah dipasarkan dan sulit dilacak asal-usulnya.

“Truk dan kayu berhasil kami amankan, namun sopir dan pelaku melarikan diri ke dalam hutan,” kata Sertu Joko dalam keterangan resmi. 

Namun kondisi medan yang terjal, gelap, serta jumlah personel terbatas membuat pengejaran tidak membuahkan hasil. 

Para pelaku diduga sudah mengenal betul jalur-jalur tikus di kawasan hutan konservasi tersebut.

Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, truk dan muatan kayu ilegal belum dapat dievakuasi dari lokasi kejadian. Barang bukti masih berada di tempat kejadian perkara dengan pengamanan terbatas.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran publik, mengingat kawasan tersebut rawan dan berpotensi dimanfaatkan kembali oleh jaringan pelaku.

Kasus ini menguatkan dugaan bahwa pembalakan liar di TNGC bukan dilakukan pemain tunggal. Penggunaan truk besar, jalur hutan tersembunyi, serta timing pengangkutan dini hari mengindikasikan operasi terorganisir.

Sono Keling bukan kayu sembarangan. Nilai ekonominya tinggi dan sering dikaitkan dengan mafia kayu yang bermain rapi dari hulu ke hilir: penebangan, pengangkutan, hingga penjualan.

Jika tidak diusut tuntas, kasus serupa diyakini akan terus berulang. Hutan Gunung Ciremai terancam rusak secara perlahan oleh praktik ilegal yang memanfaatkan celah pengawasan malam hari.

Publik kini menanti langkah tegas aparat: siapa pemilik kayu, dari mana asalnya, dan ke mana tujuan pengiriman. Tanpa pengungkapan aktor utama, penyergapan ini hanya akan menjadi kisah kejar-kejaran tanpa akhir. 

Kategori :