Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sejarah. “Jangan sekali-kali melupakan jejak yang telah membentuk kita,” tegasnya.
BACA JUGA:Lontong Lebaran Berujung Petaka, Rumah Lansia di Kadugede Hangus Tanpa Sisa
BACA JUGA:Ribuan Warga Shalat Ied di Masjid Syiarul Islam, Bupati Dian: Kuningan Kuat karena Kebersamaan
Ketua panitia, Nanang, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ia mengenang masa ketika para siswa ikut membangun sekolah dengan tangan mereka sendiri.
“Kami dulu ikut mengecor bangunan. Jadi Kosgoro bukan hanya tempat belajar, tapi bagian dari hidup kami,” katanya.
Antusiasme alumni pun terlihat nyata. Ratusan hadir, membawa semangat kebersamaan yang seolah tak lekang oleh waktu.
Acara berlangsung sederhana namun penuh makna. Lagu Indonesia Raya berkumandang, seni tradisional mengalun, dan dokumentasi masa lalu diputar kembali.
BACA JUGA:Tabuhan Bedug, Lantunan Takbir: Kuningan Menjemput Hari Kemenangan
BACA JUGA:Lautan Jamaah di Kampus UM Kuningan, Salat Ied Muhammadiyah Meluber hingga ke Jalan
Namun puncak suasana terjadi saat doa bersama dipanjatkan untuk para guru yang telah tiada.
Di momen itu, banyak kepala tertunduk. Kenangan kembali menyeruak—tentang mereka yang pernah mendidik, membimbing, dan membentuk jalan hidup.
Reuni ini bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa sesuatu yang pernah memberi arti, tidak akan pernah benar-benar pergi.
Kosgoro mungkin telah berganti rupa. Tapi bagi para alumninya, ia tetap hidup—dalam ingatan, dalam nilai, dan dalam ikatan yang tak akan pernah putus. (*)