Selamatkan Hutan Ciremai, KTH Rimba Mekar Tanam Ribuan Pohon Endemik
Paguyuban Silihwangi Majakuning, kelompok tani hutan (KTH) di sejumlah desa penyangga berperan aktif sebagai mitra pemerintah. Terutama dalam upaya konservasi, perlindungan ekosistem, serta pencegahan berbagai ancaman kerusakan hutan. (Bubud Sihabudin)--
Sejak tahun sebelumnya, paguyuban bersama KTH telah menanam ratusan pohon, dengan tingkat keberhasilan tumbuh yang cukup tinggi karena didukung pemeliharaan berkala oleh masyarakat.
Ia menyebutkan bahwa kesadaran menjaga hutan tumbuh dari inisiatif anggota KTH itu sendiri. Paguyuban berperan dalam menyediakan bibit, pendampingan teknis, serta melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan tanaman.
BACA JUGA:Berapa Bayar Zakat Fitrah Tahun 2026? Ini Kata Baznas Majalengka
BACA JUGA:Terjadi Selisih Debit Air Cukup Besar ke Indramayu, Warga Cikalahang Curiga Ada Permainan
“Pemeliharaan minimal dilakukan setiap triwulan. Namun karena masyarakat beraktivitas setiap hari di sekitar kawasan hutan, pengawasan dan perawatan berjalan secara alami,” jelasnya.
Selain kegiatan rehabilitasi hutan, KTH di bawah naungan Paguyuban Silihwangi Majakuning juga aktif melakukan patroli kawasan, pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta pengawasan terhadap potensi pencurian kayu di wilayah taman nasional.
Atas peran aktif tersebut, paguyuban baru-baru ini menerima apresiasi dari Kementerian Kehutanan dalam agenda silaturahmi nasional, khususnya atas kinerja kelompok tani hutan di wilayah Majalengka, Kuningan, dan Cirebon (Majakuning).
Paguyuban berharap percepatan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan pemerintah pusat dapat segera terealisasi, guna memperkuat pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat.
BACA JUGA:Isu Sentralisasi Penyuluh Mencuat, Diskatan Kuningan Buka Suara
BACA JUGA:RTRW Kuningan Disorot, KONI Usulkan Kawasan Kuningan Sport Centre
Perwakilan warga Desa Padabeunghar, Darsa, menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan Ciremai dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari penanaman, perawatan vegetasi, hingga mitigasi kebakaran hutan.
“Pada musim kemarau, masyarakat melakukan pembuatan sekat bakar sebagai langkah antisipasi. Apabila terjadi kebakaran, warga sekitar hutan juga menjadi pihak pertama yang melakukan pemadaman awal,” ujarnya.
Menurut Darsa, keberhasilan pelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia menilai, aspek ekologi harus berjalan seiring dengan aspek sosial, ekonomi, dan budaya.
“Pelestarian lingkungan dikatakan berhasil apabila mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitarnya,” tegasnya.
BACA JUGA:Paparkan Data Resmi, PDAM Tirta Kamuning Klarifikasi Tuduhan Krisis Air di Cikalahang
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
