Saat meninjau langsung bekas galian, KDM berhenti di tengah jalan dan berdialog terbuka dengan Kepala Balai TNGC Kuningan Toni Anwar SHut MT.
Dengan nada serius, Kang Dedi Mulyadi menunjukkan jejak kerusakan lingkungan yang masih tampak jelas.
BACA JUGA:Viral! Sidak KDM di Gunung Ciremai Soroti Tambang Ilegal, Mata Air, dan Wisata Talaga Nilem
"Ini di kaki Gunung Ciremai ada penambangan batu. Disangkanya saya tidak akan diam-diam datang ke sini,” ujar KDM sambil menunjuk bekas galian.
Dalam dialog tersebut, KDM menegaskan bahwa segala bentuk penambangan di kawasan konservasi adalah pelanggaran serius.
Ia juga mengkritik pola pikir yang selalu berlindung di balik dalih kewenangan, tanpa menyentuh akar persoalan pemulihan lingkungan.
"Kalau bicara kewenangan, tidak akan selesai. Yang saya tanya, siapa yang bertanggung jawab menanam dan merawat pohon di lahan gundul? Banyak yang tanam pohon hanya seremonial, setelah itu ditinggalkan,” tegasnya.
Menurut KDM, kerusakan hutan kerap terjadi bukan hanya karena aktivitas ilegal, tetapi juga akibat proyek pemulihan yang tidak berkelanjutan.
BACA JUGA:Kumpul Bareng Kepala Desa dari Tiga Kecamatan, Dandim 0615 Kuningan Bahas Program Pembangunan Desa
Sebagai solusi konkret, KDM menawarkan pendekatan berbasis masyarakat untuk memulihkan kawasan TNGC.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan turun tangan langsung dengan melibatkan warga sekitar sebagai penjaga hutan.
"Areal kosong akan ditanami oleh Pemprov. Warga diberi lahan garapan dua hektare, dan setiap orang digaji Rp1,5 juta per bulan untuk merawat pohon,” jelas KDM.
Skema ini dinilai lebih realistis dan berkelanjutan karena masyarakat dilibatkan langsung, bukan sekadar objek kebijakan.