Dalam konteks birokrasi modern, posisi JPT Pratama memegang peran vital dalam menentukan arah kebijakan, efektivitas program, hingga kualitas pelayanan publik.
BACA JUGA:Nama Dicatut, Pegawai Honorer ‘Mendadak’ Jadi Pemilik Ferrari Rp4,2 Miliar
Ujikom dirancang untuk menguji peserta secara komprehensif. Tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga cara berpikir strategis dan karakter kepemimpinan.
Tahap pertama adalah penulisan makalah. Seluruh peserta diwajibkan menuangkan gagasan, analisis, serta solusi terhadap isu-isu pemerintahan. Ujian ini menjadi cermin kapasitas intelektual sekaligus kemampuan menyusun kebijakan berbasis data.
Tahap kedua yaitu awancara mendalam. Digelar pada Kamis dan Jumat, sesi ini menggali lebih jauh visi, pengalaman, serta kesiapan peserta dalam memimpin organisasi perangkat daerah.
Di sinilah penilaian tidak lagi sekadar angka, tetapi juga menyentuh aspek kepribadian, integritas, dan keberanian mengambil keputusan.
BACA JUGA:Pakar Hukum UNU Cirebon: Penghakiman di Media Sosial Bisa Berujung Pidana, Ini Batasan Hukumnya
BACA JUGA:15 Hektare Sawah di Darma Diserang Tikus, Kepala Diskatan Kuningan Turun Tangan Kendalikan Hama
Hanya empat jabatan JPT Pratama yang tersedia. Kekosongan ini terjadi akibat pejabat sebelumnya memasuki masa pensiun serta adanya rotasi jabatan.
Kondisi tersebut menciptakan persaingan yang sangat ketat. Rasio 67 banding 4 menggambarkan betapa seleksi ini menjadi medan kompetisi yang tidak mudah.
Setiap peserta dituntut tampil maksimal, karena satu kesalahan kecil bisa menjadi penentu gugurnya peluang.
Di balik angka-angka dan tahapan seleksi, ujikom ini sejatinya adalah ujian bagi konsistensi penerapan sistem merit di lingkungan Pemkab Kuningan.
BACA JUGA:Janji Bupati Kuningan: Jalan Wano–Cengal–Cikeleng Segera Diperbaiki
BACA JUGA:Rp1,07 Miliar Sudah Kembali! TGR Disdikbud Kuningan Mulai Terurai
Publik menaruh harapan besar agar proses ini berjalan objektif, transparan, dan bebas dari kepentingan non-teknis.