"Saya akhirnya memilih menjadi pedagang bubur ayam untuk menafkahi keluarga. Sudah dua tahun berjualan di Cilimus. Dan Alhamdulillah sehari bisa menghabiskan dua sampai tiga kilogram bubur sekali jualan," tutur Arifin, Minggu 16 Agustus 2026.
Menurut Arifin, bubur ayam yang dijualnya dibanderol Rp10 ribu setiap porsi. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan sekitar tiga kilogram bubur.
BACA JUGA:Bank Kuningan Raih Golden Champion, Lima Tahun “Sangat Bagus”
BACA JUGA:Kebakaran TPSA Ciniru Hari Ketiga, Tim Medis Siaga Jaga Kesehatan Petugas
Dari jumlah penjualan tersebut, pendapatan kotor yang diperoleh bisa mencapai lebih dari Rp800 ribu dalam sehari.
"Keuntungan yang diperoleh jika seluruh bubur habis ya cukup besar. Cukuplah untuk menafkahi istri dan anak di rumah serta sedikit menabung," katanya.
Bagi Arifin, berjualan bubur ayam menjadi pilihan untuk tetap memperoleh penghasilan sekaligus memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ada Merek Dagang Keluarga
Arifin mengatakan banyak warga Kertawinangun memilih usaha bubur ayam karena peluang memperoleh pekerjaan formal di perusahaan maupun pemerintahan dinilai terbatas.
BACA JUGA:Sekretaris Dinkes Kuningan Kosong, Tiga Nama Layak Diperhitungkan
BACA JUGA:Petani Kuningan Kembangkan Bawang Putih, Kapolda Jabar Turun Tangan
Pola usaha itu kemudian berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Warga dari Desa Datar dan Bunder banyak dikenal sebagai pedagang nasi goreng, sedangkan warga Kertawinangun mayoritas menekuni usaha bubur ayam.
"Kalau warga Desa Datar dan Bunder berjualan nasi goreng, maka warga Kertawinangun hampir semuanya jualan bubur ayam. Tapi ada juga yang buka warkop dan juga nasi goreng," jelas Arifin.
Untuk membangun identitas usaha sekaligus memudahkan pelanggan mengenali dagangannya, keluarga Arifin menggunakan merek Pondasi Pagi. Nama tersebut dipasang di bagian depan gerobak tempat ia berjualan.
BACA JUGA:NEBO Indonesia Gelar 'Induction Vol. 2', Touring dan Pengukuhan Member Baru di Pangandaran