BACA JUGA:Jembatan Perintis Garuda Kuningan Diresmikan, Akses Warga Makin Mudah
Menurut Arifin, pedagang lain di Kertawinangun juga memiliki merek dagang masing-masing.
Nama yang digunakan biasanya berkaitan dengan keluarga atau kelompok keluarga yang ikut menjalankan usaha.
Kondisi itu membuat aktivitas perdagangan bubur ayam di kalangan warga Kertawinangun memiliki ciri tersendiri.
Usaha tersebut tidak hanya dijalankan oleh satu orang, tetapi menjadi pilihan bagi banyak warga desa.
BACA JUGA:Kunjungi Polres Kuningan, Kapolda Jabar Ajak Orang Tua dan Warga Berperan Cegah Begal
BACA JUGA:SAT SET Diluncurkan, Setda Kuningan Dorong Pelayanan Administrasi Digital
Warga Kertawinangun Memilih Jalur Wirausaha
Tokoh masyarakat Kertawinangun, Abdul Haris, membenarkan bahwa sebagian besar warga di desanya memilih bekerja di sektor nonformal atau menjalankan usaha sendiri.
Jenis usaha yang dijalankan cukup beragam, mulai dari pedagang bubur ayam, nasi goreng hingga warung kopi.
"Warga desa kami sangat mandiri. Mereka memilih sektor swasta untuk menafkahi keluarganya. Pendapatan mereka juga besar-besar setiap bulannya," sebut Abdul Haris yang berprofesi sebagai advokat tersebut.
Bagi masyarakat Kertawinangun, berdagang menjadi salah satu cara untuk membangun kehidupan ekonomi keluarga. Bubur ayam pun bukan sekadar makanan yang dijual untuk memperoleh keuntungan, tetapi telah menjadi bagian dari pilihan usaha banyak warga desa.
BACA JUGA:Cetak Sejarah Baru! Yamaha Racing Indonesia Raih Kemenangan Race Perdana SS600 ARRC
BACA JUGA:Bertanding dengan Ratusan Karya, 5 Grand Filano Hybrid Ini Jadi Jawara Classy Modifest 2026
Aktivitas warga Kertawinangun sebagai pedagang bubur ayam memperlihatkan bagaimana sektor wirausaha menjadi pilihan masyarakat untuk menopang kehidupan keluarga, terutama ketika peluang pekerjaan formal terbatas. (*)