Mendekati Puasa, Harga Cabai dan Ayam Mulai Mahal

Mendekati Puasa, Harga Cabai dan Ayam Mulai Mahal

Petugas pemantau harga Disperindagkop Kuningan, Arisman, melakukan monitoring harga bahan pangan utama di pasar tradisional, menjelang Ramadan, Senin (9/2/2026).-Agus Phanter-Radar Kuningan

Faktor cuaca, distribusi, serta lonjakan permintaan kerap memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.

Pemerintah daerah diharapkan memperkuat pengawasan distribusi dan ketersediaan stok pangan, serta mengintensifkan langkah stabilisasi harga agar lonjakan tidak semakin membebani masyarakat selama Ramadan.

Pantauan di Pasar Kepuh Kuningan, harga daging ayam potong kini menembus Rp40.000 per kilogram, naik dibandingkan pekan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp36.000–Rp38.000 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga berdampak pada pedagang kecil yang harus menambah modal akibat naiknya harga dari distributor.

Salah seorang pedagang daging ayam eceran, Aam, mengatakan kenaikan harga terjadi karena mahalnya harga beli dari bandar pemotongan ayam.

BACA JUGA:Diwarnai Kegiatan Baksos, Perayaan Hari Jadi ke-18 Partai Gerindra Kuningan

BACA JUGA:Warga Perumahan di Kabupaten Cirebon Dihantui Longsor dan Tanah Amblas

"Sekarang harga jual Rp40 ribu per kilo. Minggu lalu masih Rp36 ribu. Karena harga belanja naik, mau tidak mau harga ke pembeli ikut naik,” ujar Aam.

Ia menuturkan, kondisi ini justru membuat keuntungan pedagang menurun karena daya beli masyarakat cenderung melemah ketika harga naik.

“Kalau boleh memilih, lebih baik harga stabil. Saat naik begini, pembeli berkurang, sementara modal yang dikeluarkan lebih besar,” katanya.

Aam mengaku memperoleh pasokan daging ayam dari distributor di Desa Tajurbuntu, Kecamatan Pancalang. 

Setiap hari ia berangkat sejak dini hari ke tempat pemotongan ayam dan mulai berjualan pagi hari di pasar.

BACA JUGA:Yamaha Gebrak Maksimal di Panggung IIMS 2026, Pamerkan Model Terbaru dan Rayakan Momen Istimewa

Namun, akibat kenaikan harga, ia terpaksa mengurangi jumlah stok harian untuk menekan risiko kerugian.

“Sekarang stok saya kurangi, karena harga dari bandar sudah naik cukup tinggi,” ujarnya. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: