Air mata Ita tidak terbendung ketika disinggung pendidikan sang anak yang terpaksa putus sekolah.
Bukan tanpa alasan, situasi dan kondisi keuangan memaksa anak yang berusia 14 tahun itu, terpaksa menjadi tulang punggung.
"Saya punya anak 1 sekolah SMP tapi sudah keluar semenjak bapak meninggal. Keluarnya sejak SD putus sekolah karena nggak ada biayanya jadi nggak bisa sekolah lagi," katanya sambil menangis.
Keinginan tidak melanjutkan sekolah, ternyata juga menjadi pilihan Aep, dirinya lebih memilih untuk mencari kerja demi menghidupi dirinya dan ibunya.
BACA JUGA:Polresta Cirebon Permudah Pekerja Urus SIM, Begini Caranya
BACA JUGA:Patrick Kluivert Dipecat, Ini Kata-Kata Ketua Umum PSSI
Menurut Ita, anaknya tidak mau melanjutkan pendidikan karena tidak ada uang untuk keperluan sekolah.
"Nggak usah sekolah katanya nggak ada duit untuk beli bajunya. Karena anaknya juga nggak mau sekolah, maunya kerja buat makan," imbuhnya.
Keterbatasan berkomunikasi dan minimnya kemampuan membaca dan melihat warna, membuat Ita dan Aep jarang mendapatkan ajakan untuk bekerja oleh tetangga sekitar.
"Saya tidak bekerja. Makan sehari-hari dikasih dari tetangga, saya juga nyari genjer untuk dijualin, kalau nggak ada yang kasih makan saya puasa, seringnya makan singkong dipotong potong," ucap Ita.