“Produksi masih dilakukan secara tradisional oleh keluarga, tanpa melibatkan tenaga luar,” ungkap keduanya.
BACA JUGA:Sah, UMK Kuningan 2026 Resmi Naik Jadi Rp2,36 Juta, Berlaku Mulai Januari
BACA JUGA:Satgas P3MBG Kuningan Keluarkan Ultimatum, SPPG Bandel Terancam Sanksi Berat
Secara historis, kebun teh di Sadarehe dulunya menjadi pemasok bahan baku untuk pabrik-pabrik teh.
Namun, setelah pabrik berpindah ke wilayah Pangalengan, Garut, dan Puncak, kebun tersebut tetap dipertahankan dan dikelola secara mandiri oleh keluarga Suhanda hingga sekarang.
Teh Gambung dikenal sebagai teh herbal multifungsi. Selain dikonsumsi sebagai minuman hangat, produk ini juga dipercaya bermanfaat sebagai masker alami serta membantu perawatan rambut agar tampak lebih hitam.
Dengan harga terjangkau, yakni Rp7.000 per bungkus (100 gram), Teh Gambung justru telah memiliki pasar yang cukup luas.
BACA JUGA:Pertama Kali Terjadi, Damkar Kuningan Diminta Ambil Raport di Sekolah
BACA JUGA:Sanksi Tegas untuk SPPG Lalai Tengah Dirancang, Libatkan Satgas MBG Kuningan
Meski belum memiliki logo, kemasan modern, atau akun media sosial, pemasaran produk ini telah menjangkau berbagai daerah seperti Jakarta, Lampung, bahkan hingga luar Pulau Jawa.
Penjualan berkembang secara alami melalui metode word of mouth, terutama melalui warga Desa Payung yang merantau dan memperkenalkan Teh Gambung ke daerah lain.
Melalui program PRISMA 3.0, mahasiswa Poltek SCI hadir memberikan pendampingan UMKM, mulai dari edukasi pentingnya branding, perbaikan kemasan sederhana, hingga pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing Teh Gambung, memperluas jangkauan pasar, serta memberikan nilai tambah ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
BACA JUGA:Operasional dari Pusat Terhenti, 7 SPPG di Kuningan Tutup Sementara
BACA JUGA:Uha Juhana Puji Kinerja Bupati Dian, Bawa Prestasi Kuningan Melesat di Level Nasional
“Harapannya, Teh Gambung bisa semakin dikenal luas dan memiliki lebih banyak pembeli,” ujar Wilda dan Ulya.