Berbeda dari pola lama yang berhenti pada penyaluran, Diskatan Kuningan melakukan monitoring langsung di lapangan. Langkah ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak ingin program hanya berhenti di laporan administrasi.
BACA JUGA:218 Kepala Sekolah Dikukuhkan, Bupati Kuningan: Mutasi Jabatan Tak Perlu Disakralkan
BACA JUGA:Ini Jawaban Tegas Kepala BPKAD Kuningan: Gagal Bayar Bukan Prestasi
“Kami turun langsung untuk memastikan bantuan benar-benar dimanfaatkan petani. Kalau hanya disalurkan tanpa dikawal, dampaknya tidak akan maksimal,” kata Wahyu.
Dari sisi teknis, kelapa genjah dinilai lebih menjanjikan. Tanaman ini mulai berbuah pada usia 3–4 tahun, produktif sepanjang tahun, dan memiliki pasar yang jelas.
Air kelapanya memiliki permintaan tinggi, sementara daging buahnya dapat diolah menjadi santan hingga minyak kelapa.
Dalam konteks ekonomi desa, komoditas ini memberi peluang diversifikasi usaha tani yang lebih stabil dibanding bergantung pada satu tanaman saja.
BACA JUGA:Daftar Harga Sembako di Kuningan, Daging Ayam dan Minyak Kompak Turun
BACA JUGA:Sering Luber ke Jalan, Damkar Kuningan Temukan Ini di Saluran Air
Kepala Desa Tanjungkerta, Iwan Febri Suwandi, menilai bantuan ini sebagai angin segar bagi petani yang selama ini membutuhkan kepastian arah kebijakan pertanian.
“Kami berharap program ini benar-benar berkelanjutan, bukan hanya satu musim. Petani butuh kepastian, bukan sekadar bantuan sesaat,” ujarnya.
Program kelapa genjah kini menjadi ujian nyata bagi komitmen penguatan ekonomi petani desa. Jika pengawalan konsisten dan pasar terus dibuka, komoditas ini berpotensi menjadi penopang baru pertanian Kuningan.
Namun tanpa keberlanjutan, program berisiko mengulang pola lama: ramai di awal, sepi di hasil.
BACA JUGA:Penampakan Pintu Ruang Kepala Desa Padamenak yang Disegel Warga
BACA JUGA:Pintu Masuk Kepala Desa Padamenak Disegel Warga
Diskatan Kuningan memilih bergerak cepat. Kini, hasilnya akan ditentukan oleh konsistensi di lapangan. (*)