Lebih jauh, Yayat menilai mekanisasi pertanian di Cirebon memiliki prospek yang baik.
Hampir seluruh proses panen kini telah menggunakan mesin combine harvester karena dinilai lebih praktis, mudah, dan hemat biaya.
Namun, kondisi tersebut harus diimbangi dengan dukungan alat pengolahan lahan yang sesuai.
"Setelah pakai combine, petani sering kesulitan saat mengolah lahan kembali. Maka kami dorong dengan menurunkan alat-alat seperti rotavator dan traktor roda empat, disesuaikan dengan situasi dan kondisi lahannya,” pungkasnya.
BACA JUGA:3 Atlet NPCI Asal Kuningan Berjaya di Kancah Internasional
BACA JUGA:Warga Indramayu Was-Was Banjir, Minta Pintu Klep Sungai Cimanuk Cepat Diperbaiki
Sementara itu, kondisi pertanian di Kabupaten Cirebon terus menghadapi tantangan, terutama pada tahap pengolahan lahan pasca panen.
Peralihan metode panen dari tenaga manual ke mesin combine harvester memang membuat pekerjaan petani lebih praktis dan efisien.
Namun, di sisi lain berdampak pada kondisi tanah yang menjadi lebih keras dan sulit diolah kembali.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian Provinsi Jawa Barat melalui Satpel Plumbon meluncurkan penggunaan alat dan mesin pertanian berupa traktor roda empat di Desa Kertasari Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon, kemarin.
Traktor tersebut digunakan untuk mengolah lahan pertanian seluas 7,5 hektare yang akan kembali ditanami padi.
Petani penggarap lahan, Surya, menuturkan bahwa lahan tersebut sebelumnya mengalami beberapa kali perubahan komoditas.
Awalnya ditanami padi, kemudian beralih menjadi lahan tebu selama sekitar 10 tahun, dan dalam beberapa tahun terakhir ditanami singkong.
“Sekarang rencananya mau ditanami padi lagi, jadi lahannya memang harus diolah ulang dari awal karena kondisinya cukup keras,” ungkap Surya.
Dengan lahan yang cukup luas, Surya mengakui pengolahan secara manual akan membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, kehadiran traktor roda empat dinilai sangat membantu dan lebih efisien. (war)