Unik dan Renyah, Kerupuk Pleredan Cidahu Jadi Kuliner Khas Kuningan

Selasa 04-08-2026,12:09 WIB
Reporter : Agus Sugiarto
Editor : Asep Kurnia

Namun, tidak semua orang mampu membuat kerupuk tersebut karena proses pembentukannya membutuhkan keterampilan khusus serta ketelitian.

Salah seorang warga yang masih mempertahankan usaha pembuatan Kerupuk Pleredan adalah Rosmanah. Ia mulai memproduksi kerupuk khas tersebut secara mandiri sejak sekitar tahun 2019.

“Sudah lama sekali, kira-kira tahun 2019 kali ya,” ujar Rosmanah.

Menurutnya, keterlibatannya dalam usaha Kerupuk Pleredan berawal dari lingkungan keluarga. Sebelum mampu membuat sendiri, ia membantu kegiatan penjualan kerupuk yang telah lebih dahulu dijalankan oleh keluarganya.

“Tadinya ibu yang jualan begini. Kalau ibu tidak bisa bikin, cuma jualan ke pasar, ngambil dari orang-orang. Terus, waktu pertama saya belum bisa, minta diajarin orang yang lagi bikin dan bisa,” katanya.

Setelah mempelajari proses pembuatannya, Rosmanah akhirnya mampu memproduksi Kerupuk Pleredan sendiri. Hingga kini, kegiatan tersebut masih dilakukan dalam skala rumah tangga dengan jumlah produksi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Proses pembuatan Kerupuk Pleredan masih mengandalkan cara tradisional. Mulai dari mengolah adonan, membentuk kerupuk menjadi menyerupai bunga, mengukus, hingga menjemurnya dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin.

Meski terlihat sederhana, setiap tahap membutuhkan ketelitian. Bentuk bunga yang menjadi ciri khas Kerupuk Pleredan harus dibuat secara rapi agar menghasilkan tampilan yang menarik dan kualitas yang baik.

Dalam satu kali produksi, Rosmanah biasanya mengolah sekitar tiga kilogram kerupuk. Pada kondisi tertentu, jumlah produksi dapat meningkat hingga lima kilogram dalam sehari.

“Saya biasa membuat tiga kilogram, tetapi kadang bisa memproduksi hingga lima kilogram dalam sehari. Kalau membuat lima kilogram bisa makan waktu seharian karena saya membuat dari awal sampai akhir sendirian,” ujarnya.

Proses produksi yang dilakukan secara manual membuat kapasitas pembuatan kerupuk bergantung pada tenaga dan keterampilan perajin. Untuk menghasilkan produk dalam jumlah lebih banyak, waktu pengerjaan juga menjadi lebih panjang.

Selain memiliki bentuk yang unik, Kerupuk Pleredan dinilai praktis untuk dibawa sebagai buah tangan. Produk tersebut dapat dijual dalam kondisi sudah digoreng maupun masih mentah.

Kerupuk mentah juga mempunyai daya simpan yang cukup lama apabila disimpan dengan benar.

“Kalau kerupuk mentah bisa tahan sampai satu tahun, asalkan disimpan di tempat yang kering dan tidak lembap,” kata Rosmanah.

Daya tahan tersebut membuat Kerupuk Pleredan berpotensi menjadi oleh-oleh khas Kuningan yang dapat dibawa oleh wisatawan maupun masyarakat yang berkunjung ke daerah tersebut.

Tampilan warna-warni dan bentuk menyerupai bunga menjadi daya tarik utama produk ini. Bahkan, tidak sedikit pembeli yang penasaran dengan cita rasa Kerupuk Pleredan karena tampilannya berbeda dari kerupuk tradisional lainnya.

Kategori :