Petani Kuningan Kini Dilindugi Asuransi
ILUSTRASI. Lewat Program Asmik, ribuan petani di seluruh Jawa Barat ditargetkan harus sudah terlindungi oleh asuransi.-Istimewa-Radar Kuningan
KUNINGAN, RADARKUNINGAN.COM - Petani di Kabupaten Kuningan, kini bakal dilindungi asuransi untuk menunjang kinerja mereka.
Program ketahanan pangan nasional yang tengah digagas oleh pemerintah pusat, sangat bergantung terhadap keterlibatan petani.
Supaya rencana tersebut bisa berjalan maksimal, pemerintah kini mengeluarkan program untuk melindungi para petani.
Program ketahanan pangan tak hanya dilakukan lewat peningkatan produksi, tetapi juga dengan memastikan petani sebagai pelaku utama terlindungi dari berbagai risiko.
Melalui program Asuransi Mikro Kecelakaan, Kesehatan, dan Meninggal Dunia (Asmik), ribuan petani di seluruh Jawa Barat ditargetkan harus sudah terlindungi oleh asuransi.
BACA JUGA:SAGI 127, Nomor Aduan Program MBG 24 Jam Non Stop
Sebanyak 40 ribu petani di 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, ditargetkan mendapatkan perlindungan dengan subsidi premi 100 persen pada 2025.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Ujang Suhadi, menjelaskan bahwa premi asuransi sebesar Rp50 ribu per orang per tahun sepenuhnya disubsidi oleh pemerintah provinsi.
"Dengan subsidi penuh, tidak ada hambatan biaya bagi petani. Manfaatnya meliputi santunan rawat inap Rp100 ribu per hari maksimal 90 hari per tahun, santunan pembedahan hingga Rp2,5 juta, santunan meninggal dunia Rp10,5 juta, santunan meninggal karena sakit Rp2,5 juta, serta santunan cacat tetap akibat kecelakaan hingga Rp5 juta sesuai ketentuan polis,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan, Dr Wahyu Hidayah menegaskan, bahwa perlindungan terhadap petani merupakan langkah strategis dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional.
"Ketahanan pangan tidak hanya soal meningkatkan produksi, tetapi memastikan petani memiliki jaring pengaman. Jika petani terlindungi, maka keberlanjutan produksi dan stabilitas pasokan pangan akan lebih terjaga,” ujarnya, akhir pekan kemarin.
BACA JUGA:Jadwal Safari Ramadan 2026, Bupati Kuningan Tarling di Desa Citenjo
Menurut Wahyu, risiko di sektor pertanian tidak hanya datang dari faktor alam seperti perubahan iklim, banjir, kekeringan, maupun serangan organisme pengganggu tanaman.
Risiko kesehatan dan kecelakaan kerja juga menjadi ancaman nyata bagi petani di lapangan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
