517 Warga di Majalengka Terancam Kehilangan Rumah

517 Warga di Majalengka Terancam Kehilangan Rumah

Kondisi permukiman warga di Blok Godabaya, Desa Sukadana, Kecamatan Malausma, terdampak pergerakan tanah dan longsor.-Istimewa-Radar Majalengka

"Keselamatan warga menjadi prioritas utama. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, dan instansi terkait, termasuk membahas kemungkinan relokasi,” ujar Agus.

Dijelaskan Agus, pihaknya menerima laporan warga adanya pergerakan tanah di Blok Godabaya, setelah muncul retakan tanah yang semakin melebar di sejumlah titik permukiman.

"Wilayah terdampak meliputi RT 02, RT 03, RT 04, dan RT 05. Sebanyak 19 rumah terdampak langsung, sementara 128 rumah lainnya terancam. Total terdapat 163 KK dengan 517 jiwa yang berpotensi terdampak,” ujar Agus.

BACA JUGA:Anggota Dewan: Negara Lebih Sibuk Merapihkan Sistem Daripada Melindungi Warga Sakit

Ia menyebutkan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, sejumlah warga terpaksa mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat karena khawatir terjadi longsor susulan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.

Berdasarkan hasil analisis BPBD, wilayah Blok Godabaya berada pada ketinggian sekitar 712 hingga 750 meter di atas permukaan laut dengan morfologi perbukitan berelief rendah hingga tinggi. 

Kemiringan lereng berkisar antara 25 hingga 45 persen dan sebagian besar mengarah ke permukiman.

Secara geologi, kawasan tersebut tersusun oleh breksi gunung api Cakrabuana. Sementara itu, jenis tanah yang mendominasi adalah kambisol bertekstur sedang hingga halus, yang mudah menyerap air, namun kehilangan kekuatan ikatan saat jenuh air.

“Tanah jenis ini memiliki stabilitas rendah, terutama jika berada di area lereng,” jelas Agus.

Tata guna lahan di sekitar lokasi didominasi permukiman, jalan desa, ladang, sawah terasering, dan kebun. Keberadaan rumah di lereng bagian tengah memperbesar risiko saat terjadi akumulasi air hujan.

Agus menambahkan, curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir menjadi faktor utama pemicu bencana.

“Air yang meresap meningkatkan tekanan pori dan memicu retakan yang kemudian berkembang menjadi pergerakan lereng,” katanya.

Hingga Sabtu sore, BPBD bersama aparat desa dan relawan masih melakukan pemantauan intensif di lokasi, mengingat potensi hujan masih cukup tinggi dalam beberapa hari ke depan. (ono/bae)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: