Wahyu juga menyampaikan bahwa penyakit tungro disebabkan oleh virus yang dibawa wereng hijau. Gejalanya mudah dikenali, mulai dari daun menguning, tanaman kerdil, hingga bulir padi yang tidak terisi sempurna.
Di sisi lain, Diskatan Kuningan tetap optimistis terhadap produksi padi ke depan.
Tahun 2026, Kabupaten Kuningan menargetkan surplus padi mencapai 125 ribu ton, meningkat dari capaian sebelumnya.
Penyakit tungro sendiri disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui wereng hijau.
BACA JUGA:Pasca Mutasi, Pejabat Eselon III Pemkab Kuningan Wajib Retreat di KRK
BACA JUGA:Diskatan Kuningan Salurkan Ribuan Bibit Kelapa Genjah
Serangannya ditandai dengan perubahan warna daun menjadi kuning hingga oranye, tanaman tumbuh kerdil, jumlah anakan berkurang, serta malai pendek dan tidak terisi sempurna.
"Jika dibiarkan, tungro bisa menurunkan hasil panen secara drastis, bahkan berujung gagal panen. Karena itu, pengendalian harus mencakup pengamatan rutin, pengendalian vektor, penggunaan varietas tahan, dan pola tanam serempak,” jelasnya.
Kepala Desa Cikaso Hidayat Noor, menyambut baik pendampingan yang dilakukan Diskatan. Menurutnya, kehadiran pemerintah di lapangan memberi rasa aman dan semangat bagi petani.
"Petani merasa tidak berjalan sendiri. Pendampingan seperti ini sangat kami harapkan,” katanya.
Melalui langkah cepat dan pendampingan berkelanjutan, Diskatan Kuningan berharap serangan tungro bisa ditekan, hasil panen tetap terjaga, dan pertanian Kuningan terus bergerak menuju ketahanan pangan yang kuat.