Desa di Kuningan Selatan Ini Diridikan oleh Wanita Misterius, Warganya Tinggal di Sela-sela Pohon Pinang

Desa di Kuningan Selatan Ini Diridikan oleh Wanita Misterius, Warganya Tinggal di Sela-sela Pohon Pinang

Desa Cidadap, Kecamatan Salajambe, Kabupaten Kuningan. -Istimewa-radarkuningan.com

RADARKUNINGAN.COM - Ada sebuah desa di Kabupaten Kuningan bagian selatan. desa ini didirikan oleh wanita misterius yang hingga kini belum diketahui namanya.

Warga di desa tersebut dulunya tinggal di antara pohon pinang atau jambe. Desa ini sekarang terletak di tapal batas antara Kabupaten Kuningan dan Ciamis Barat.

Desa ini berbama Selajambe. Desa yang warganya mayoritas petani sawah ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Selajambe, Kuningan, Jawa Barat.

Di Kuningan bagian selatan, desa ini termasuk yang tertua. Bahkan, merupakan salah satu pemukiman manusia pertama di sekitar wilayah itu.

BACA JUGA:4 Ciri Kucing Marah Sama Kita, Begitu Lucu dan Menggemaskan

Kemudian Selajambe dijadikan sebagai pusat wilayah. Bahkan, sekarang desa ini menjadi pusat Kecamatan Selajambe.

Sedjarah Koeningan Community dalam unggahan di facebook menuliskan, sebelum dikenal sebagai Selajambe, daerah itu bernama Cidadap. Pusat pemukiman masyarakat berada di area yang disebut sebagai Cilimus. 

Lokasinya dekat dengan kaki pasir atau gunung yang sekarang merupakan wilayah hutan negara. Tempat itu berada di bagian utara Sungai Cijolang. Kini menjadi batas antara Kabupaten Kuningan dan Ciamis.

Menurut cerita masyarakat, Cidadap, yang merupakan nama awal Selajambe, kemungkinan didirikan pada sekitar tahun 1789. Atau, paruh kedua abad ke-18 M. 

BACA JUGA:Joglo Arunika, Spot Baru Arunika Eatery Jadi Wisata Viral di Kuningan, Bikin Vibes Ala Jepang Makin Kental!

Pemimpin pertama atas Cidadap ketika perintisan wilayah itu adalah seorang wanita. Hanya sayangnya nama dan sosok wanita tersebut masih misterius hingga saat ini.

Meskipun demikian, wanita itu mampu merintis Cidadap yang semula hanya wilayah hutan yang tertutup menjadi kawasan pemukiman yang terbuka. 

Dia juga bisa menarik masyarakat untuk hidup menetap dan bertani, meninggalkan kebiasaan ngahuma yang ketika itu menjadi tren mata pencaharian di tengah masyarakat Sunda.

Dalam memangku jabatannya, pemimpin desa itu dibantu oleh para lelugu kampung dan seorang kabayan. Dia memimpin masyarakat dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: