Hubungan Unik Harimau dengan Orang Jawa, Sumatera dan Bali, Diposisikan Terhormat, Dipanggil 'Mbah Buyut'

Hubungan Unik Harimau dengan Orang Jawa, Sumatera dan Bali, Diposisikan Terhormat, Dipanggil 'Mbah Buyut'

Hubungan unik harimau dengan masyarakat di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali.-KLHK-radarkuningan.com

RADARKUNINGAN.COM - Zaman lampau, antara harimau dengan masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali, memiliki hubungan unik. Termasuk masyarakat Sunda di dalamnya.

Bahkan, masyarakat yang tinggal di 3 pulau tersebut menempatkan harimau di posisi terhormat. Dengan menganggap, jika harimau itu merupakan “Mbah buyut” mereka. 

Namun sekarang bertolak belakang. Harimau justru seolah menjadi musuh. Keberadaannya pun di Pulau Jawa sudah dibahayakan punah.

Penyebabnya ada banyak hal. Namun yang paling utama adalah persoalan moralitas umat manusia mengelola hutan, sebagai rumah harimau. Hilangnya hutan, berbanding lurus dengan kemunduran moral manusia.

BACA JUGA:Inilah 6 Cara Melatih Kucing Kampung Agar Tidak Berak Sembarangan, Para Pemilik Kucing Kampung Wajib Simak!

Hubungan unik antara harimau dan masyarakat Jawa, Sumatera dan Bali ini pernah ditulis oleh seorang sejarawan. Dia bernama Peter Boomgaard.

Hubungan unik itu ditulisdalam sebuah buku yang berjudul “Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World, 1600-1950”. Boomgaard pun melukiskan bagaimana harimau memiliki hubungan unik dengan orang Jawa, Bali dan Sumatera.

Sejarawan ini melukiskan, harimau sebagai satwa yang terhormat. Bahkan si Raja Hutan ini selalu dianggap oleh orang Jawa, Sunda, Sumatera dan Bali, sebagai nenek moyang atau buyut mereka.

Karena terhormatnya posisi hariamu ini, dalam budaya Jawa, terutama wayang kulit, harimau merupakan sedikit dari binatang yang dihadirkan dalam pegelaran tersebut.

BACA JUGA:3 Tips Melatih Kucing Agar Tidak Buang Kotoran Sembarangan, Cat Lovers Wajib Simak!

Masyarakat ketika itu, dilukiskan oleh Peter Boomgaard, menganggap harimau identik  dengan seorang yang bijaksana. Sikap bijaknya itu hanya dimiliki oleh seorang pemimpin pada masa itu.

Jika di masa kini, bisa diartikan dengan istilah konservasi alami satwa tersebut selama ratusan tahun. Kisah-kisah kearifan lokal selalu menempatkan harimau sebagai satwa terhormat. 

Karena penghormatan manusia masa lalu terhadap satwa, terutama harimau, ganjarannya alam memberikan dan mencukupi kebutuhan dasar manusia. Terutama air dan kesuburan bercocok tanam. 

Hanya saja sekarang berubah drastis. Kini harimau dipandang sebagai satwa pengganggu. Harimau bukan lagi menjadi simbol kemakmuran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: