Agus mengatakan, survei ini diambil dalam rentang waktu tanggal 2 hingga 6 Oktober 2024 di 32 kecamatan dan mencakup 135 desa.
“Jumlah responden yang diambil mencapai 650 orang, memenuhi kaidah reppresentatif dan proporsional. Serta mewakili demografi maupun geografis,” kata Agus, Rabu 9 Oktober 2024.
“Akurasi dari survei dengan metodologi multi step random sampling ini tergolong tinggi dengan margin of error 4 persen memberikan gambaran kondisi pemilih saat ini,” klaim dari lembaga survei tersebut.
BACA JUGA:Bahrain vs Timnas Indonesia, Ivar Jenner Umbar Optimisme
BACA JUGA:Kondisi Maarten Paes Membaik Jelang Timnas Indonesia vs Bahrain, Simak!
BACA JUGA:Kondisi Rumput di Kandang China Jadi Kendala Timnas Indonesia, Ini Kata Ketua BTN
Pertanyaan lain yang tak kalah menarik adalah sejauh mana tingkat popularitas para paslon. Ternyata pasangan Ridho -Kamdan kembali menarik hati para responden.
Paslon nomor dua unggul diangka 53,7 persen, disusul paslon nomor urut satu 53,7 persen, dan nomor urut tiga 11,2 persen.
Pertanyaan berikutnya adalah siapa paslon yang disukai, hasil ini masih linear dengan pertanyaan sebelumnya. Yaitu 43,5 persen responden memilih pasangan nomor dua , Ridho-Kamdan.
Kemudian 34,9 persen memilih paslon nomor 1, dan 12,8 persen memilih paslon nomor 3.
BACA JUGA:Indonesia vs Bahrain, Fakta: Skuad Garuda Tajam di Kandang Lawan
BACA JUGA:Sedihnya Pelatih Arema FC, Tak Satupun Pemain yang Dipanggil Timnas Indonesia
BACA JUGA:Upaya Jay Idzes Pertahankan Catatan Apik di Timnas Indonesia, Simak!
Ada satu hal yang cukup membedakan dari survei Parameter Konsultindo jika dibanding survei lainnya adalah semakin mendekati hari pelaksanaan pilkada, jumlah responden yang belum menentukan pilihan semakin berkurang.
Menurut Agus Aribowo, kondisi ini memberikan dua gambaran sekaligus. Pertama mengindikasikan para pemilih mulai mengenali calon, mengenal rekam jejak, dan mulai menetapkan pilihan.
“Tepatnya di 50 hari menjelang hari pencoblosan. Indikasi kedua berkaitan akurasi, antara hasil survey dengan realitas hasil pilkada. Dengan minimnya jumlah responden yang belum menentukan pilihan, hasil akhir dari perhitungan suara diprediksi tidak akan jauh berbeda,” tegas Agus. (*)