Yamaha_detail

Yenny Wahid vs Muhaimin, Gusdurian Minta Move On

Yenny Wahid vs Muhaimin, Gusdurian Minta Move On

Radarkuningan.com, JAKARTA - Polemik Yenny Wahid vs Muhaimin Iskandar terkait Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) turut ditanggapi KH Imam Jazuli LC.

Menurut dia, polemik antara Yenny Wahid vs Muhaimin tidak sepatutnya terjadi. Dan sudah sepatutnya move on, mengingat Gus Dur sendiri ridha dan lapang dada.

Namun, belakangan ini justru kembali mencuat adu pernyataan antara Yenny Wahid vs Muhaimin Iskandar terkait PKB.

"Ada begitu banyak saksi mata, betapa Gus Dur dengan rida dan lapang dada merestui kepemimpinan Kiai Aziz Mansyur sebagai ketua Dewan Syuro PKB, dengan Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum," kata KH Imam Jazuli, dalam tulisannya di Disway.id.

BACA JUGA:Sejarah Desa Linggarjati Kuningan, Diberi Nama Sunan Bonang, Sunan Kalijaga hingga Sunan Kudus

KH Imam Jazuli memandang, keridhaan dan kelapangan dada Gus Dur adalah sikap seorang pemimpin sejati. Sebab, hal tersebut sangat tidak mudah.

Dia kembali menyinggung mengenai polemik Yenny Wahid vs Muhaimin Iskandar. Menurutnya, Yenny justru kembali memprovokasi perpecahan di PKB.

"Yenny malah memprovokasi perpecahan PKB daripada menyerukan persatuannya," kata KH Imam Jazuli.

Yenny Wahid mengungkit-ungkit luka lama yang sejatinya sudah sembuh di tangan hukum. Bahkan, tidak henti-hentinya menyebut Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar merampas PKB dari tangan ayahnya, Gus Dur.

BACA JUGA:Marshanda Hilang di Los Angeles, Sebut Nama Jokowi dan Joe Biden

Di sini menjadi sangat tampak bahwa Gusdur-isme mudah diselewengkan, bahkan oleh interpretasi keturunan biologisnya sendiri. Gus Dur adalah pribadi yang mudah memaafkan dan tidak iri meri pada siapapun, termasuk pada Muhaimin Iskandar sendiri.

Muktamar Ancol dan Muktamar Parung 2008 memang realitas sejarah yang tidak bisa dimungkiri. Partai besar ini, yang konon memperjuangkan "ukhuwah", ternyata juga sempat tergelincir, dengan berkonflik sesama warga Nahdliyyin.

Namun, Gus Dur bukan tipe pendendam. Perpecahan pun bukan cita-cita kita semua. Apalah gunanya bicara humanisme, persaudaraan, dan persatuan. Sementara sikap dan perilaku diri kita sendiri sebagai warga NU dan pecinta tidak mencerminkan itu.

Hari ini kita membutuhkan figur yang patut diteladani, mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu, lebih-lebih sesama warga Nahdliyyin. Bukan hanya bersatu dalam ormas keagamaan melainkan juga bersatu di partai politik.

BACA JUGA:Sejarah Air Zam Zam, Ternyata Dulu Pernah Kering dan Tidak Tersisa

Bersatunya warga NU di dunia politik sudah terpikirkan oleh kiai-kiai sepuh kita. Karenanya, mereka membentuk Tim Lima dengan Surat Tugas No. 925/1998.

Tujuannya untuk membentuk satu partai politik yang mampu menampung seluruh aspirasi warga NU. Bukan memecah-belah. (yud)

Artikel ini telah diterbitkan di Disway.id, dengan Judul: Gusdurian Harus Move On, Mbak Yenny Wahid Stop Provokasi

Sumber: disway.id