Situs Bujal Dayeuh di Desa Wisata Cibuntu, Tanda Kehadiran Manusia Purba di Kaki Gunung Ciremai

Situs Bujal Dayeuh di Desa Wisata Cibuntu, Tanda Kehadiran Manusia Purba di Kaki Gunung Ciremai

Situs Bujal Dayeuh merupakan peninggalan manusia purba di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan.-Indonesia Travel/ist-radarkuningan.com

BACA JUGA:Hemat dan Anti Ribet, Inilah 3 Makanan Rumahan Favorit Kucing dan Cara Membuatnya, Penuhi Nutrisi Anabul

Yakni di sekiitar Alun-alun Desa Cibuntu yang ditemukan puluhan kapak genggam, gelang, kelenting dan 1 kapak genggam berwarna ati ayam.

Temuan lain yang didapatkan adalah menhir, dolmen, peti kubur batu, arca dan struktur batuan.

Keberadaan jejak manusia purba di kaki Gunung Ciremai ini, pernah dilakukan penelitian oleh Ivan Efendi dari Universitas Indonesia dengan Judul: Persebaran situs-situs megalitik di kaki gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat kajian Arkeologi-ekologi.

Peninggalan megalitikum di kaki Gunung Ciremai terdapat setidaknya 23 situs yang dibagi dalam 2 kelompok besar berdasarkan fungsi.

BACA JUGA:Bolehkah Memelihara Kucing Secara Outdoor? Simak 5 Alasan dan Keutungannya Berikut ini

Yakni, kelompok pertama situs dengan jenis tinggalan berupa peti kubur batu. Terdapat beberapa situs pada kelompok ini yakni di Desa Cibuntu, Pasawahan, Cipari, dan Rajadanu.

Kemudian kelompok kedua yakni situs bukan kubur seperti menhir, arca, batu lumpang, dolmen, batu dakon, jambangan batu dan punden berundak.

Pada kelompok ini, ditemukan di sejumlah lokasi yakni di Cimara, Cibunar, Sangkanerang, Situs Lingga, Buyut Sukadana, cangkuang, Winduherang, Bagawat, Darmaloka, dan lainnya.

Kendati banyak didapatkan temuan peninggalan zaman megalitikum, di kawasan Gunung Ciremai belum pernah ditemukan kerangka manusia purba.

BACA JUGA:Bikin Malu Jika Pecinta Anabul Tidak Tahu Ini! Kenapa Kucing Suka Meminta Makan Walau Belum Habis?

Lalu apa penyebabnya? Saat berkunjung ke Museum Purbakala Cipari, pengelola memberikan penjelasan bahwa hal ini terkait dengan unsur hara pada tanah yang cukup tinggi.

Pada ketinggian sekitar 500-600 meter di atas permukaan laut yang berjenis tanah vulkanis, dikenal dengan tingkat keasaman tinggi.

Hal ini membuat proses penguraian berlangsung lebih cepat dari pada normalnya.

Karena faktor keasaman tanah ini, tulang belulang manusia, menjadi tidak terawetkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: