Kisah Pebisnis Sukses Majalengka, dari Oplet Sindangkasih Hingga Jadi Bapak Otomotif Indonesia

Kisah Pebisnis Sukses Majalengka, dari Oplet Sindangkasih Hingga Jadi Bapak Otomotif Indonesia

Kisah Pebisnis Sukses Majalengka-Foto: Ist/@menaraastrajakarta-Radarkuningan.com

RADARKUNINGAN.COM - Siapa yang tidak mengenal sosok pebisnis ulet pendiri perusahaan besar PT Astra Internasional, William Soeryadjaya atau Tjia Kian Liong.

Lalu, bagaimanakah kisah perjalanan pebisnis sukses Majalengka yang sempat dinobatkan sebagai orang terkaya kedua di Indonesia itu? Simak ulasan artikel berikut ini.

Tjia Kian Liong merupakan sosok legenda bisnis Indonesia yang lahir di Majalengka pada 20 Desember 1922. Sebelum dikenal sebagai taipan yang bergelimang harta pada masanya, sosok yang akrab disapa Om Willem itu memulai perjalanan bisnisnya dengan penuh pahit dan getir.

Terlebih lagi, sejak umur 12 tahun Tjia Kian Liong sudah menjadi seorang anak yatim piatu karena kedua orangtuanya meninggal akibat menderita sakit tifus.

BACA JUGA:3 Cara Kucing Bilang I Love You pada Pemiliknya, yang Sering Tidak disadari Oleh Kita!

BACA JUGA:6 Ciri-Ciri Kucing Sehat dan Bahagia di Pelihara Olehmu, Pemilik Anabul Wajib Baca!

Berlatar belakang keluarga yang cukup berada di zamannya, Tjia Kian Liong mewarisi sebuah usaha transportasi oplet dengan nama "Sindangkasih" peninggalan mendiang ayahnya.

Dari situlah, Tjia Kian Liong yang yatim dan juga piatu hidup dan tumbuh besar bersama adik-adiknya.

Berkat warisan usaha otobis yang dijalankan pamannya itu membuat Tjia Kian Liong masih bisa mengenyam pendidikan di Hollands Chinesche Zending Scholl (HCZS) di Kadipaten dan MULO atau sekarang SMP 1 Cirebon.

Perkembangan politik dan ekonomi masa itu semakin memburuk, oplet-oplet warisan ayah juga tidak menunjukkan perkembangan, membuatnya terpaksa harus tinggal kelas di MULO Cirebon.

BACA JUGA:3 Rekomendasi Mobil Listrik Termurah 2024! Mulai dari 100 Jutaan Aja!

BACA JUGA:3 Cara Mengatasi Kucing Liar Agresif, Lakukan Hal Ini agar Menjadi Teman!

Seiring masuknya pengaruh Jepang di Hindia Belanda, ia juga ikut tampil sebagai sosok ayah dari kedua adiknya. Sejak saat itulah perjalanan usaha dan perdagangannya dimulai.

Ia diketahui sempat menjual kertas-kertas bekas dari Bandung untuk kemudian dijual di Cirebon. Ia pun tercatat sempat melakoni usaha menjual kain tenun di Majalaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: