Berkelana 18 Ribu Kilometer, Kisah 17 Warga Cilimus yang Dikirim ke Suriname, Tetap Gunakan Bahasa Sunda

Berkelana 18 Ribu Kilometer, Kisah 17 Warga Cilimus yang Dikirim ke Suriname, Tetap Gunakan Bahasa Sunda

Kisah warga dari Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan dikirim Belanda ke Suriname.-Repro Buku Kabar Tersiar dari Lereng Ciremai hingga Bukit Walisongo Permai-radarkuningan.com

RADARKUNINGAN.COM - Di masa penjajahan Belanda, sejumlah warga dari Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, ternyata pernah dikirim ke Suriname, Amerika Selatan.

Para pemuda dari Kecamatan Cilimus dan desa lain di Kabupaten Kuningan ini, mesti mengarungi lautan sejauh lebih dari 18 ribu kilometer.

Di sana, mereka dipekerjakan sebagai buruh perkebunan. Pengiriman buruh ke Suriname ini, merupakan bagian dari program Pemerintah Kolonial Belanda pada akhir Abad 19.

Berdasarkan catatan sejarah, pada waktu itu, Suriname adalah wilayah koloni Belanda yang kerap disebut Guyana Belanda. Sebab, lokasinya berbatasan dengan wilayah koloni Prancis dan Guyana.

BACA JUGA:Imlek yang Terlupakan di Cilimus yang Dulu Jadi 'Desa Tionghoa' di Kabupaten Kuningan

Pada rentang waktu tahun 1921 sampai dengan 1928, sebanyak 17 warga dari Tjilimoes atau saat ini Kecamatan Cilimus dan sekitarnya, dikirimkan ke sana.

Suriname pada waktu itu, merupakan tanah tidak bertuan. Di sana mereka menggarap pertanian dan perkebunan.

Sebuah program yang dijalankan Pemerintah Kolonial Belanda yakni kebijakan cultuurstelsel alias tanam paksa.

Mengutip Buku Kabar Tersiar dari Lereng Ciremai Hingga Bukit Walisongo Permai yang ditulis Tedi Kholiludin, ternyata ada sekitar 17 warga Kecamatan Cilimus yang pada tahun 1921-1928 berangkat ke Suriname.

BACA JUGA:Berenang Bersama Ikan Dewa di 2 Kolam Renang Alami di Kuningan, Airnya Dingin Menusuk Tulang

Pengiriman tenaga kerja dari Hindia Belanda ini, tidak lepas dari pergantian buruh yang sebelumnya dikirimkan ke sana.

Sebab, pada waktu itu kontrak para buruh asal Afrika telah habis. Mereka dibebaskan pada 1863 sebagai komitmen Belanda untuk menghapuskan perbudakan.

Kebijakan ini, rupanya sangat berdampak pada perekonomian Suriname yang menurun drastis. Sebab, perkebunan di sana tidak ada yang menggarap.

Selain dari Kecamatan Cilimus, ternyata dari wilayah Kuningan lainnya, juga terdapat 30 buruh kerja kontrak di Suriname.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: